Kamis, 07 Januari 2010

Penelitian: Marah Lebih Memperpendek Usia

Percaya tidak, semakin sering Anda marah, semakin memperpendek usia Anda. Begitu kata para periset di AS dalam penelitan terbaru Hidayatullah.com—Para peneliti mengatakan, kemarahan dan emosi tinggi lainnya dapat memicu irama jantung mematikan.

Riset Ilustrasi sebelumnya memperlihatkan gempa bumi, perang atau kekalahan pada pertandingan sepakbola piala dunia dapat meningkatkan tingkat kematian akibat serangan jantung setelah irama organ tubuh vital ini berdetak terlampau cepat atau dengan ketinggian mematikan. Kondisi tersebut berarti jantung berhenti mensirkulasi darah yang bisa membuat si pemilik jantung meninggal secara tiba-tiba. "Kondisi tersebut diperlihatkan dalam cara berbeda saat Anda berada dalam kondisi tertekan yang memicu kematian mendadak," kata dr Rachel Lampert dari Yale University di New Heaven, Connecticut (AS).

Riset diawali dengan memperhatikan bagaimana kemarahan bisa mempengaruhi sistim elektrik jantung. Lampert dan kolega-koleganya melakukan riset terhadap 62 pasien jantung dan menggunakan alat getar jantung yang dilekatkan ke tubuh mereka atau disebut ICD. ICD bisa mendeteksi irama jantung atau "arrhythimia", yang mengantarkan kejutan listrik guna memulihkan detak jantung normal. "Mereka adalah orang-orang yang memiliki beberapa kecenderungan pada arrhythimia. Responden dalam riset ini diminta berolahraga untuk menghitung episod kemarahan mereka belakangan ini sementara itu tim Lampert melakukan tes yang disebut Pengatur Gelombang-T untuk mengukur ketidakstabilan listrik pada jantung. Tim riset secara spesifik mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada responden guna mengingat kembali episod-episod kemarahan mereka. "Kami dapatkan dalam seting lab bahwa rasa marah atau kemarahan bisa meningkatkan ketidakstabilan elektrik pada pasien-pasien ini," kata Lampert. Selanjutnya, tim riset memantau responden selama tiga tahun untuk menentukan pasien yang mendapat serangan jantung sehingga membutuhkan alat kejut jantung dari benda getar yang dilekatkan pada tubuh mereka. "Orang-orang yang mengalami ketidakstabilan elektrik akibat kemarahan tinggi 10 kali kemungkinan besar dibanding lainnya yang mengalami gangguan arrhytmia," tambah dokter tersebut.

Riset menunjukkan kemarahan bisa memicu kematian, setidaknya untuk orang-orang yang cenderung suka marah-marah sehingga menimbulkan gangguan listrik pada jantung. Kemarahan dan stres juga bisa mempengaruhi orang jantungnya normal tapi caranya berbeda dibanding mereka yang memiliki ketidaknormalan pada salah satu organ tubuh vital tersebut. Kematian akibat jantung secara tiba-tiba mencapai lebih dari 400.000 setiap tahun di AS.

reuters/htb/www.hidayatullah.com

Sebuah Koin Penyok

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itu pun mengikuti anjuran si Teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si Kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

adaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns.

Kunci Sukses

Alkisah pada suatu desa terdapat seorang kakek yang rajin beribadah, ia beranggapan bahwa semua doanya akan dikabulkan oleh Allah.

Suatu ketika tibalah hujan yang sangat lebat sehingga terjadilah banjir, seluruh penduduk pun mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tapi anehnya si Kakek tersebut cuma diam seraya berdoa, “Ya Allah selamatkanlah hamba-Mu ini dari marabahaya banjir.” Waktu itu ada seseorang yang mengetahui bahwa si Kakek belum mengungsi kemudian datanglah sebuah perahu yang menawarkan agar si Kakek mau diajak untuk mengungsi bersamanya, tapi dia tetap tidak mau beranjak dari tempat tersebut. Dengan perasaan kecewa sang Pengemudi perahu pergi meninggalkan kakek sendirian.

Hujan semakin lebat volume air bertambah tinggi pula si Kakek masih berusaha naik kepohon kelapa, secara kebetulan Team SAR yang menyusuri wilayah tersebut dengan helikopter dengan maksud yang sama ia membujuknya agar mau di evakuasi. Namun, tawaran tersebut masih ditolak juga. Karena tidak mengindahkan ajakan Team SAR, si Kakek pun tenggelam terbawa arus banjir dan akhirnya meninggal dunia.

Tibalah kakek di akherat protes “Ya Allah mengapa Engkau tidak menolong hamba-Mu ini. Padahal saya ahli ibadah?”

Allah pun menjawab, “Apakah engkau lupa sudah ada seseorang yang datang mau menolong lewat perahu, tapi kamu tolak. Dan pertolongan yang kedua lewat helikopter, tapi masih kamu tolak juga. Dan itulah pertolanganKu yang terakhir.”

Dari kisah di atas dapat kita ambil sebuah pelajaran bahwa:
Allah akan memberi pertolongan hamba-Nya melalui berbagai macam cara.
Kita harus lebih peka menyikapi masalah dan mencari solusinya.


Mau sukses?? Ada beberapa hal yang perlu diingat: DUIT (bukan arti yang sebenarnya lho), tapi Doa, Usaha, Ikhlas dan Tawakal.

Doa
Kita wajib berdoa pada Allah dalam segala hal, alangkah sombongnya kita jika sebagai manusia lemah tidak mau berdo'a pada Allah di dunia ini tiada daya dan kekuatan selain dariNya.

Usaha
Berusaha dengan semaksimal mungkin semua masalah pasti dapat terselesaikan asalkan kita mau berusaha. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum tersebut merubah nasibnya sendiri. Allah tidak akan menurunkan masalah melainkan sebatas kemampuan manusia.

Ikhlas
Dengan ikhlas kita niatkan segala perbuatan kita untuk mencari RihoNya.

Tawakal
Setelah ketiga hal tersebut kita lakukan yang terakhir tinggal menyerahkan segalanya pada Allah agar diberi jalan yang terbaik.

Semoga dengan artikel tersebut kita dapat menambah sedikit ilmu dan bisa mengamalkannya AMIN......

Imajinasi Akan Masa Depan

Kali ini kita akan menyimak kisah “Mary Crowe”. Seorang gadis kecil yang tinggal di daerah miskin di kota Ohio. Ia adalah salah seorang anak perempuan dari delapan anak seorang tukang tambang. Saat ia sedang mencuci pakaian kerja ayahnya, termenung menatap jendela rumahnya yang sangat kotor (simbol kemiskinan yang menyelimutinya dan keluarganya), suatu gambaran datang menghampirinya. Sebelumnya, ia telah memiliki angan-angan tentang masa depannya. Tetapi, yang ini lebih dari sekedar angan-angan. Berlian yang berkilauan dimatanya adalah bayangan tentang sebuah kampus, gedung-gedung dengan halaman hijau yang tenang, dapagari dengan tumbuh-tumbuhan menjalar yang indah. Menyusul bayangannya tentang hari wisuda, dan ia melihat dirinya sendiri memakai toga dan topi sedang menerima gulungan kertas ijazah. Ia merasakan kegembiraan yang hebat, rasa kepuasan prestasi, dan penuh kebanggaan.

Tetapi mimpi macam apakah ini ? Tak seorang pun dari keluargannya mengenyam pendidikan di kampus. Ia telah berdoa untuk perubahan itu agar mendapat kesempatan belajar. Namun sepertinya, bayangannya yang aneh tadi hanyalah fantasi hampa seorang gadis kecil. Tak lebih dari itu. Karena ia tak memiliki cukup uang untuk hal semacam ini. Sedang untuk kebutuhan sehari-hari pun kesulitan tercukupi. Tetapi bayangan dirinya menerima gulungan kertas ijazah begitu jelas dan nyata.

Suatu hari Mary Crowe menerima panggilan dari pendeta di gerejanya. Dengan penuh teka-teki Mary Crowe pergi ke rumah pendeta, dimana sang bapak yang baik itu membuka laci meja serta mengeluarkan sebuah amplop. “Mary,” katanya, “baru saja seorang jemaat kita memberi sejumlah uang untuk digunakan sebagai dana pendidikan beberapa orang yang membutuhkan dana. Saya telah mempertimbangkanmu, dan saya telah memutuskan bahwa kamu adalah salah satunya. Uang ini bisa memungkinkanmu untuk mengambil pendidikan empat tahun di Saint Mary. Saya yakin, kamu akan mendapatkan nilai yang bagus di sana.” Dan pada kenyataannya, ia belajar dikampus itu dan berhasil meraih nilai tertinggi.

Inilah imajinasi yang menjadi nyata. Mimpi yang sungguh-sungguh menjadi kenyataan. Apakah ini sekedar kebetulan ? Tidak. Karena Mary Crowe mengatakan bahwa ketika pertama kalinya melihat kampus itu di Saint Mary, ia mengenalnya. Itulah kampus yang ia lihat dalam bayangan yang menghampirinya ketika ia sedang mencuci pakaian kerja ayahnya.


Ia belajar di kampus Saint Mary dan berhasil meraih nilai tertinggi. Ketika mendekati masa-masa wisuda, Mary Crowe mulai memikirkan karier. Kebetulan, saat itu ia tahu sebuah kasus yang menimpa tetangganya yang miskin yang menyebabkan ia mengerti betapa penting asuransi.

Saat itu hampir tidak ada perempuan yang bekerja sebagai petugas penjual asuransi. Hal itu masih menjadi sesuatu yang langka. Dunia asuransi adalah dunia kaum laki-laki. Tetapi, Mary Crowe ‘melihat’ dirinya sebagai seorang penjual yang sukses. Ia memvisualisasikan para pembeli yang hidupnya akan dilindungi dan terbantu oleh asuransi yang mereka beli. Ia mematri semua itu dalam benaknya dengan sejumlah kejelasan dan kepastian. Kemudian ia pergi mencari pekerjaan di sebuah agensi asuransi terbesar di kota itu.

Pegawai yang bertugas di bagian perekrutan menolaknya. Tidak ada toleransi. Wanita mau menjadi pegawai di agensi itu ? “Pulanglah,” katanya kepada Mary Crowe, “kamu hanya akan membuang-buang waktumu dan waktuku.”

Mary Crowe pulang, tetapi hari berikutnya ia datang lagi. Sekali lagi ia ditolak. Besoknya ia datang lagi dan ia pun tetap ditolak. Berhari-hari hal ini terjadi. Mary Crowe selalu berdoa penuh kesabaran serta kekuatan untuk mengikuti mimpinya. Ia menutup matanya dari keraguan. Ia tidak memberi celah sedikit pun bagi keraguan untuk masuk ke dalam dirinya.

Akhirnya, pegawai petugas rekrutmen itu terkesan dengan kegigihannya. “Baiklah,” katanya. “Kami akan menerima Anda. Tetapi, tanpa digaji. Hanya uang komisi. Jadi, Anda bisa teruskan dan Anda akan mendapatkan banyak kesulitan.”

Mary Crowe menerimanya dan mulai melakukan penjualan dari pintu ke pintu. Orang-orang memperhatikannya karena ia mampu membuat mereka merasa bahwa ia bersungguh-sungguh untuk membantu mereka (seperti yang ia tunjukkan). Dan ternyata ia tidak banyak mendapat kesulitan. Jauh dari itu, ia justru menjadi ‘salesperson’ terbaik di perusahaan itu. Ia menjadi anggota ‘Million Dollar Round Table’, sebuah kelompok khusus yang terdiri atas para agen asuransi yang mampu menjual asuransi bernilai lebih dari satu juta dollar dalam tempo 1 tahun.

Ia menjadi sebuah legenda dalam bisnis asuransi. Dengan kata lain, ia telah menjadi seperti apa yang ia imajinasikan. Ini sebuah kesuksesan yang luar biasa.

*Kisah ini menarik, menjelaskan adanya kekuatan dahsyat dan misterius di dalam diri kita yang mampu menimbulkan kemajuan yang dramatis di dalam kehidupan kita. Hal ini adalah semacam rekayasa mental yang bisa menghasilkan kerja terbaik ketika ditopang oleh sebuah keyakinan keagamaan yang kuat. Di dalam proses barimajinasi, seseorang tidak hanya berpikir tentang sebuah harapan akan tujuan, tetapi ia juga ‘melihat / memvisualisasikannya’ dengan intensitas yang sangat tinggi dan memperkuatnya dengan doa.

Sumber : Norman Vincent Peale, Positive Imaging, Diglossia, 2006

Point Of View

Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang
berpergian naik pesawat ke Jakarta. Di sampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.

"Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?" tanya si Pemuda.
"Oh... Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight" ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua" jawab ibu itu.
"Wouw..... hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam
sejenak.

Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.

"Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya
Bu?? Bagaimana dengan adik-adiknya??"
”Oh ya tentu.”

Si Ibu bercerita :
"Anak saya yang ketiga seorang Dokter di Malang, yang keempat Kerja di Perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi Arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi Kepala Cabang Bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang."

Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya
dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.

"Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??"
Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, "Anak saya yang pertama menjadi Petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar"
Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu..... kalau ibu agak kecewa ya
dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani "??
Dengan tersenyum ibu itu menjawab, "Ooo ...tidak tidak begitu nak.... Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang
membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani"

Today's lesson :

Everybody in the world is a important person.
Open your eyes....
your heart....
your mind....
your point of view....
because we can't make summary before read "the book" completely.

The wise person says...
The more important thing is not WHO YOU ARE

But
WHAT YOU HAVE BEEN DOING

Sumber: Gemintang.com

Kuatnya Sebongkah Harapan

Dahulu, ada seorang pengusaha yang cukup berhasil di suatu kota. Ketika sang suami jatuh sakit, satu persatu pabrik mereka di jual. Harta mereka terkuras untuk berbagai biaya pengobatan. Hingga mereka harus pindah ke pinggiran kota dan membuka rumah makan sederhana. Sang suami pun telah tiada. Beberapa tahun kemudian, rumah makan itu pun harus berganti rupa menjadi warung makan yang lebih kecil sebelah pasar.

Setelah lama tak terdengar kabarnya, kini setiap malam tampak sang istri di bantu oleh sang anak dan menantunya menggelar tikar berjualan lesehan di alun-alun kota. Cucunya sudah beberapa. Orang—orang pun masih mengenal masa lalunya yang serba berkelimpahan, namun ia tak kehilangan senyumnya yang tegar saat meladeni para pembeli.

Wahai ibu, bagaimana kau demikian kuat? “Harapan Nak! Jangan kehilangan harapan. Bukankah seorang guru dunia pernah berujar, karena harapanlah seorang ibu menyusui anaknya. Karena harapanlah kita menanam pohon meski kita tahu tak kan sempat memetik buahnya yang ranum bertahun-tahun kemudian. Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia.”


Sumber: daunlontar.com

Ikan dan Air


Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Kata Ayah kepada anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.”

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air, ia mendadak menjadi gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai, tahukah kamu dimana air? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.”

Ternyata semua ikan tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil semakin gelisah, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal serupa, “Dimanakah air ?”

Jawab ikan sepuh, “Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita akan mati.”

Manusia kadang-kadang mengalami situasi seperti si Ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai dia tidak menyadarinya…..

Kehidupan dan kebahagiaan ada di sekeliling kita dan sedang kita jalani, sepanjang kita mau membuka diri dan pikiran kita, karena saat untuk berbahagia adalah saat ini, saat untuk berbahagia dapat kita tentukan.