Jumat, 01 Januari 2010

manusia dan penderitaan

KITA semua tahu apa itu penderitaan. Kita bahkan mengalaminya. Orang biasa bilang bahwa penderitaan itu seperti bayangan yang selalu ada sepanjang badan. Kadang-kadang bayangan itu di belakang kita sehingga kita tidak menyadari keberadaannya. Tetapi sering juga bayangan itu membentang di depan. Penderitaan menjadi sangat jelas dan mencekam.
Penyebab penderitaan juga macam-macam. Ia datang kepada kita dalam bentuk sakit, gagal dalam usaha, diperlakukan secara tidak adil, mengalami duka cita karena kematian orang yang kita kasihi, musibah seperti bencana alam. Singkatnya ada banyak penyebab penderitaan. Apa pun penyebabnya, penderitaan selalu ada. Ia seperti bayang-bayang yang selalu menyertai hidup. Hanya orang yang sudah meninggal saja yang tidak mengenal dan mengalami penderitaan. Atau mungkin juga orang mati menderita. Kita belum tahu itu, karena kita belum mengalami sendiri.
Minggu-minggu ini umat kristen sedunia memasuki saat-saat perenungan akan penderitaan Kristus dan maknanya bagi mereka. Penderitaan selalu ada. Manusia tidak bisa berbuat lain kecuali menghadapinya. Itu sebabnya adalah penting untuk kita merenungkan makna penderitaan itu. Mungkin kita tidak suka melakukannya. Tetapi karena penderitaan itu merupakan fakta yang tidak terhindarkan, kita harus menerimanya dan menemukan maknanya. Inilah salah satu maksud penetapan perayaan minggu-minggu sengsara alam kalender gerejawi.
Penderitaan perlu dihadapi dan direnungkan. Ini mengandaikan bahwa ada makna positif yang bisa kita petik dari pengalaman penderitaan. Ya, setidak-tidaknya itulah yang dikatakan oleh Henry Ward Becher. Menurut Becher "menangis itu adalah rahmat". Waktu anak kami lahir di negeri Belanda, seorang dokter datang membawa jarum suntik. Dia mengambil darah dari telapak kaki anak kami. Tentu saja si bayi kesakitan. Ia menangis dengan suara keras. Dokter yang merawat dia berkata: "Gooed..... Goed... doe maar" (Baik-baik. Menangislah). Sambil memandang kepada saya dia berkata: "Bayi yang menangis waktu disakiti adalah tanda bahwa bayi itu sehat. Menangis juga perlu agar paru-parunya berkembang".
"Menangis adalah berkat." kata Henry Becher. Ini juga berlaku bagi orang dewasa. "Karena dengan air mata Allah membasuh mata kita agar melihat negeri yang tidak kelihatan, negeri yang tanpa air mata." Saya rasa pendapat ini ada benarnya. "Yesus ada bersama dua orang murid waktu mereka di dalam perjalanan ke Emaus. "Tetapi ada sesuatu yang menghalang mata mereka sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia" (Yoh. 24:16). Mereka sangat terpaku pada cara hidup yang lama, pendapat dan pengajaran yang lama tentang hidup, Allah dan kebenaran. Penghayatan mereka tentang hidup bersifat statis dan monoton.
Sesuatu yang menutupi mata mereka itu terangkat, waktu Yesus berbicara kepada mereka begitu rupa sehingga hati mereka berkobar-kobar, mereka sangat tersentuh dan terharu dengan apa yang mereka dengar itu (Yoh. 24:32). Sangat biasa jadi perasaan berkobar-kobar itu membuat mata mereka basah karena air mata. Akibatnya mereka memperoleh pemahaman yang baru mengenai hidup, Allah dan kebenaran. Mereka memperoleh perspektif baru dalam memahami kitab suci. Mata mereka dapat melihat sesuatu yang baru pada apa yang selama ini sudah mereka lihat. Saya kira Becher benar saat ia berkata : "Menangis adalah berkat karena dengan air mata Allah membasuh mata kita agar melihat negeri yang tidak kelihatan, negeri yang tanpa air mata". Artinya dengan memahami penderitaan, pengharapan akan satu perubahan ke arah yang lebih baik makin dilihat sebagai sebuah kebutuhan. Pengharapan akan hidup yang lain dari keadaan sekarang (status quo) bertumbuh di dalam pengalaman penderitaan.
Waktu pemerintah sekarang mengumumkan kenaikan harga BBM, reaksi muncul di mana-mana. Banyak orang yang meminta agar harta para koruptor besar disita oleh pemerintah untuk menanggulangi subsidi BBM, proses pengadilan yang adil kepada para koruptor harus menjadi prioritas pemerintah. Penderitaan ternyata mengajar orang untuk memperbaiki keadaan hidup.
Penderitaan ada manfaatnya. Ia mendekatkan kita kepada Allah, kata seorang pemikir yang lain bernama Harlod A Bisley. "Penderitaan adalah kesempatan yang baik untuk berdoa. "Waktu hujan tidak turun dan tanaman di kebun mulai layu dan ada ancaman kegagalan panen, banyak orang berdoa. Kita cepat-cepat datang kepada Tuhan waktu pencobaan datang."
Para awak kapal berseru masing-masing kepada Allahnya waktu badai dan angin sakal menghantam kapal mereka. Itu cerita yang kita baca dalam Kitab Yunus. Murid-murid Yesus juga berseru kepada sang guru waktu mereka diserang badai secara tiba-tiba saat mereka sedang berlayar. Bahkan Yesus sendiri juga mengambil waktu khusus untuk berdoa, waktu Dia berada pada situasi yang kritis menjelang kematiannya.
Akh, bisa saja ada yang tidak setuju. Penderitaan tidak membawa manfaat apa pun bagi manusia. Ia malah membuat umur hidup seseorang menjadi lebih pendek. Lihat saja, gara-gara penderitaan ada banyak orang yang stres, lalu mengalami strok dan kemudian stop. Karena alasan-alasan ini ada ahli yang menolak untuk kita memuliakan penderitaan. Penderitaan harus dilawan sekuat tenaga. Manusia harus berjuang untuk menolak penderitaan yang ia alami.
Fakta-fakta yang kita catat di atas membuat kita menjadi bijak. Penderitaan itu ada plusnya tetapi juga ada minusnya. Ini memang fakta yang tidak mungkin dipungkiri. Teori macam apa pun tidak akan mampu berkat yang kita peroleh dalam penderitaan menghilangkan sisi negatifnya. Ini kalau kita bicara tentang plus-minus dari penderitaan. Daripada terjerat dalam soal plus minus dan kita tidak pernah akan memperoleh kata sepakat penderitaan dapat juga dilihat dari sisi lain. Sisi lain adalah sebagai berikut.
Fakta mengatakan bahwa manusia tidak pernah sendirian dalam menghadapi penderitaan. Dalam derita manusia kembali menjadi satu. Penderitaan membuat perbedaan-perbedaan pendapat, konflik, dan perpecahan mencair dengan sendirinya. Orang-orang yang hidup dalam permusuhan dan konflik bisa dengan mudah melupakan konflik dan perbedaan pendapat yang ada di antara mereka.
Coba kita lihat pengalaman penderitaan yang kita alami sebagai satu bangsa karena bencana alam di Aceh. Belakangan ini Indonesia dikenal sebagai bangsa yang bersekutu dan persaudaraannya tercabik-cabik. Bangsa Indonesia yang satu mengelompok dalam sentimen agama dan suku yang sangat tinggi. Orang Islam menganggap orang Kristen sebagai ancaman. Mereka saling memandang dengan penuh curiga, yang satu menganggap yang lain sebagai kafir atau melakukan syirik.
Pengelompokan manusia Indonesia menurut agama : Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, orang kafir dan orang bertaqwa hilang dengan begitu saja. Mereka yang berbeda-beda ini justru bergandengan tangan menanggulangi dan menghadapi penderitaan. Ini sungguh satu mujizat. Ya, kalau dalam keadaan suka cita kita cenderung terbelah-belah, maka dalam derita dan duka kita kembali menjadi satu.
Pengalaman tidak sendiri dalam penderitaan tidak merupakan satu yang bersifat horizontal belaka. Yang tidak kalah penting untuk kita ketahui, juga di dalam minggu-minggu pra paskah ini, adalah kenyataan berikut. Allah juga ada bersama kita. Ia menjadi satu dengan kita yang menderita. Allah ternyata ikut ambil bagian dalam penderitaan manusia. Ia yang kudus dan agung berkenan menyatukan nasibNya dengan nasib manusia.
Fakta ini kita alami di dalam Kristus. Paulus menulis: "Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-9)
Penderitaan memang menyakitkan dan menimbulkan luka. Tetapi manusia tidak pernah sendiri menghadapinya. Selalu saja ada teman dan sahabat yang ikut berbela rasa dengan kita memikul duka cita itu. Bahkan Tuhan juga menjadi sahabat kita. Yesus kawan yang sejati, bagi kita yang lemah, tiap hal boleh dibawa dalam doa padaNya. Inilah penghiburan sejati bagi manusia. Ini sumber kekuatan kita menghadapi penderitaan dengan percaya bahwa penderitaan itu bersifat sementara saja. Habis gelap akan terbit terang. Penderitaan ternyata membangkitkan pengharapan
Sumber:www.google.com

Kegelisahan

Kecemasan tentang kenyataan adalah suatu pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan suatu bahaya dalam dunia luar. Kecemasan adalah perinngatan pada ego, bahwa ia berada dalam bahaya.

Kecemasan yan pernah saya alami adalah ketika saya menunggu hasil UAN dimana hasil UAN menurut saya sangat menentukan masa depan saya. Saat menunggu detik – detik penantian tersebut dengan perasaan yang sangat cemas dan gelisah. Karena banyak hal – hal buruk yang saya bayangkan dan sebuah ketakutan - ketakutan yang benar – benar mambuat saya memikirkan suatu hal yang sangat buruk sekali yang akan saya alami jika saya dinyatakan tidak lulus dalam UAN. Kecemasn saya datang juga karena orang tua yang menekankan pada saya bahwa saya harus lulus, karena jika tidak mereka akan merasa malu karena anaknya tidak lulus dalam UAN. Dan juga tentunya saya akan merasa jauh lebih malu dari orang- orang yang ada disekitar saya. Malu dengan diri sendiri, teman, orang tua dan masyarakat sekitar saya. Yang pasti akan beranggapan hal – hal negatif tentang diri saya. Hal iu juga yang membuat saya menjadi lebih merasa cemas, takut, dan gelisah saat itu. Apalagi saat malam dimana hasil UAN itu paginya akan diberitahukan. Perasaan saya semakin cemas, sangat gelisah, dan sangat takut menunggu sebuah surat yang didalamnya terdapat sebuah prnyataan tantang kelulusan saya yang sangat maenentukan masa depan saya dan nama baik keluarga besar saya. Perasaan cemas, gelisah, dek- dekan, semua menjadi satu di dalam hati saya saat itu dalam menunggu hasil pengumuman UAN. Akan tetapi setelah saya mendapatkan hasil UAN saat itu saya sangat bangga, senang, terharu. Karena didalam surat pernyataan tersebut saya dinyatakan LULUS.

Menurut Sigmund Freud, kecemasan dibagi menjadi tiga macam, yakni : yakni kecemasan tentang kenyataan/obyektif, kecemasan neurotis, dan kecemasan moril.
Dalam kecemasan yang saya alami saat itu saya dapat mengartikan bahwa kecemasan yang saya alami adalah kecemasan MORIL. Kecemasan MORIL merupakan suatau perasaan bersalah atau malu dalam ego, yang timbul oleh suatu pengamatan mengenai bahaya dari hati nurani. Kecemasan MORIL juga mempunyai ikatan yang erat denagan kecemasan NEURITIS, karena musuh – musuh utama dari super ego adalah pemilihan objek dari id.

Selasa, 29 Desember 2009

hari ibu

Hari ini tanggal 22 Desember 2008 kita memperingati Hari Ibu yang dirayakan secara nasional. Di beberapa negara juga terdapat peringatan Hari Ibu yang lebih dikenal dengan nama Mother’s Day. Walaupun ada perbedaan hari seperti di Amerika dan Kanada merayakan Hari Ibu pada hari Minggu di minggu kedua bulan Mei, namun maknanya tetap sama. Kata ibu disini mencangkup Ibu, Nenek maupun Calon Ibu.

Sejarah hari ibu di indonesia sendiri dimulai dengan diadakannya kongres pertama organisasi-organisasi wanita di Jogjakarta pada tanggal 22 Desember 1928. Kongres perempuan ini kini dikenal dengan nama Kongres Wanita Indonesia. Organisasi perempuan sendiri sudah bermula sejak 1912 yang terilhami oleh pejuang wanita nasional seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. ( sumber : http://yulian.firdaus.or.id/2004/12/22/sejarah-hari-ibu/ )

Jadi jelas kongres perempuan ini bertujuan atau memiliki makna untuk ikut mengambil bagian dalam pergerakan nasional. Saat ini Indonesia sudah merdeka namun wanita selalu mengambil bagian dalam rangka pembangunan nasional. Di susunan kabinet menteri sudah sering wanita menduduki posisi menteri, bahkan menjadi presiden RI ke-5, yaitu Megawati Soekarno Putri. Peran wanita dalam pemerintahan pusat maupun daerah juga tidak dapat dipungkiri.

Ditengah keterbatasan wanita, ternyata wanita mampu untuk ikut berpartisipasi dalam dominasi dunia pria di Indonesia. Kita sudah sering melihat prestasi wanita dalam berbagai bidang seperti politik, sosial, teknologi, maupun olah raga. Walaupun masih banyak orang yang merendahkan kaum wanita namun mereka tetap dapat menunjukkan eksistensinya dalam berbagai bidang. Jika demikian apakah kita pantas untuk merendahkan martabat kaum wanita?

Terlepas dari peran serta wanita dalam berbagai bidang, hendaknya kita memaknai Hari Ibu karena peran besarnya dalam melahirkan dan merawat kita sehingga menjadi pribadi yang besar saat ini. Seringkali kita melihat di samping pemimpin besar selalu ada wanita yang tangguh. Baik sebagai istri maupun sebagai Ibu kita akan selalu melihat fenomena ini di Dunia. Jadi kita hendaknya harus selalu menghormati kaum wanita karena peran besar seorang Ibu yang tak dapat digantikan oleh kaum pria yaitu melahirkan Anak. Tanpa beliau kita tidak ada di muka bumi ini.

Mario Teguh menyebutkan dalam Golden Ways, hanya dengan memikirkan atau mengucapkan kata ibu maka kita langsung teringat dengan jasa Ibu kita, membuat diri kita terenyuh dan berpikir apakah saya sudah berbuat baik untuk membalas jasa besar Ibu kita? Jasa ibu sendiri tidak bisa kita gantikan dalam kehidupan ini.

Sebagai anak maka patutlah bagi kita untuk mendengarkan nasehat beliau dan merawat beliau kelak ketika sudah berumur. Sebagai seorang suami maka hendaknya suami selalu menghormati pendapat istri dan tidak menganggap rendah istrinya sehingga melakukan kekerasan rumah tangga karena kelemahan wanita.

Marilah kita memaknai Hari Ibu ini dengan lebih menghormati jasa dan peran wanita dalam hidup kita.

Pertunjukan Boneka Si Gale – gale



Pertunjukan kesenian boneka sigale-gale sudah ada sejak jaman dulu. Tarian ini sangat religius. Taarian ini biasanya dilakukan saat upacara kematian, dimana keluarga yang mengadakan upacara ini tidak memiliki anak laki – laki. Si Gale-gale adalah seperangkat patung dan topeng yang bisa dimainkan. Si Gale-gale dimainkan oleh seorang dalang dengan gerak-gerak tertentu. Seni gerak, atau yang lebih lazim disebut seni tari wayang Si Gale-gale dikenal sebagai tari Tortor. Sambil menggerak-gerakkan boneka dalam gaya tari Tortor. Ki Dalang bercerita. Dalam gerak dan cerita yang terpadu itulah dalang menggambarkan dan memaparkan jiwa dan kepribadian Putra Batak yang dilandasi ajaran Sisingamangaraja. Dengan perkataan lain Si Galegale itu memegang peranan sebagai wahana untuk mengungkapkan kembali, juga menyampaikan kembali, dan sekaligus, melestarikan ajaran Sisingamangaraja agar tetap diingat, dihayati, dan diamalkan oleh putra Tapanuli di mana pun mereka berada.
Intisari ajaran atau wejangan Sisingamangaraja tersirat dan sekaligus tersirat dalam ungkapan Dalihan na Tolu. Kata dafthan, rasanya mirip dengan kata dalih dalam bahasa Indonesia, yang secara etimologis dekat dengan bahasa Jawa Galih, yang di samping punya arti alasan, juga mengandung makna : dasar, inti, inti persoalan, dan juga asas. Dengan demikian kata mutiara dalam bahasa Batak itu dapat diartikan sebagai Dasar atau Asas yang Tiga. Bahkan kadang-kadang orang Batak sendiri menterjemahkannya secara sederhana: Dalihan na Tolu artinya : Terungku atau Penyangga yang Tiga.
Terungku yang Tiga ialah gambaran jiwa dan semangat kekerabatan dalam masyarakat Batak, di mana unsur kekerabatannya terdiri dari tiga kelompok, yaitu: Dongan sa Butuha, Hulahula, dan Boru. Yang pertama berarti, kawan seperut atau saudara kandung. Yang kedua: seluruh keluarga pihak istri.
Yang ketiga: seluruh keluarga yang beristrikan keturunan saudara sekandung.
Ketiga unsur itu tidak boleh bersilang-sengketa. Harus bersatu-padu seperti yang tercermin dalam ungkapan-ungkapan:
(1) Manot mardongan sa Butuha, yang artinya: Jangan sembrono terhadap saudara sekandung.
(2) Somba marhula-hula, yang artinya: Sembahlah, atau hormatilah selalu keluarga pihak istri.
(3) Elek marboru, yang artinya: Sayangilah saudara perempua.


Dari pembahasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa tarian Si Gale-gale banyak mengandung arti. Dilihat dari nilai
Tanggung jawab:
Seorang anak laki –laki di daerah batak sangatlah dihormati dan dihargai oleh keluarganya, karena ia adalah tulang punggung sebuah keluarga. Sehingga tarian Si Gale-gale biasa dilakukan oleh keluarga yang dimana sebuah keluarga itu tidak memiliki anak laki-laki. Sehinga untuk menarikan tarian tortor yang biasa diadakan untuk upacara kematian dibuatlah boneka yang di sebut Si Gale-gale untuk mewakili ketidak adaanya seorang anak laki-laki.
Cinta dan kasih sayang:
- Dalam hal ini tarian si gale-gale juga mewakilkan perasaan orang tua yang sangat sayang dengan anaknya. Karena di dalam cerita tentang asal usul tarian si Gale-gale,di sebutkan bahwa sebuah keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki dan saat anak mereka meninggal mereka ingin anaknya selalu tetep hidup di hati mereka. Maka dari itulah mereka membuat patung boneka si gale-gale untuk mengingatkan mereka dengan sang anak.
- Dalam hal ini tarian Si gale-gale juga mengandung nilai kasih sayang dan cinta. Dimana dalam hal ini tarian Si Gale-gale menggambarkan sebuah kasih sayang dan penghormatan seoran anak kepada orang tua yang teah meninggal dengan menarikan sebuah tarian tortor. Yang biasa dibawakan untuk menghantarkan arwah seseorang yang telah meninggal. Dan merka percaya jika tarian ini dilakuakan maka arwah orang yang meninggal itu dapat senang dialamnya.

Kamis, 12 November 2009

Kematian di Tana Toraja

Ratusan juta dikeluarkan sebuah keluarga untuk dapat menggelar prosesi upacara kematian

Tana Toraja terletak di wilayah utara provinsi Sulawesi Selatan. Untuk mencapai kabupaten yng terletak di pegunungan berpemandangan alam yang indah ini, dibutuhkan waktu delapan jam perjalanan darat dari kota Makasar.

Memasuki ibu kota kabupaten Tana Toraja, deretan tongkonan atau rumah adat Toraja, segara menyambut. Nyaris tak terdapat mobil dan rumah mewah disana. Simbol dan status masyarakat Toraja memang tidak di tunjukan oleh benda – benda modern, melainkan oleh jumlah tongkonan yang mereka miliki. Sebuah keluarga juga dianggap kaya kalau dapat membagun 12 lumbung padi di depan halaman rumah, yang dibuat mirip tongkonan, dengan bentuk lebih kecil.

Simbol kekayaan lain adalah kerbau (tedong). Hewan ini tidak hanya sebagai merupakan simbol matrealistis., tetapi juga mempunyai makna penting dalam upacara kematian masyarakat Toraja yang masih memegang kepercayaan Aluk To Dolo. Kerbaulah yang membawa arwah dalam upacara kematian atau Rambu Solo ketempat peristirahatan terakhir. Dalam upacara Rambu Solo yang cukup besar, tedong yang di korbankan dapat mencapai 60 ekor.

Harga tedong bervariasi, tergantung dari panjang tanduk, warna, ukuran tubuh, serta jenisnya. Tedong yang berwana abu-abu seperti lazimnya kerbau, Rp20 juta per ekor, sedang yang telah di kebriri mencapai Rp30-40 juta per ekor. Untuk tedong albino, per ekor Rp50 juta, sedangakan tedong bonga (berkulit belang hitam dan putih) bisa melebihi Rp100 juta.

Tentunya biaya kematian di Tana Toraja ini cukup tinggi. Misalkan upacara untuk kematian bangsawan menengah, setidaknya perlu biayha sebesar Rp300 juta. Dana yang di gunakan untuka membangun makam di tengah tebing serta memotong babi dan tedong itu di tanggung oleh anak-anak almarhum. Tak heran bila pelaksanaan Rambu Solo kerap di tunda berthun-tahun lamanya, menunggu sampai uang terkumpul agar apaat digelar Rambu Solo yang sempurna.

Tana Toraja memang banyak menyimpan kaindahan, tak hanya dari alamnya semata, melainkan juga juga tradisi yang sampai saat ini tetap terjaga kelestariannya.

Selasa, 10 November 2009

Kesenian Gandrung

Kesenian Gandrung merupakan ibu dari kesenian lainnya yang ada di Banyumas. Pada usia 10 tahun para wanita mulai menarikannya. Tarian Gandrungan juga biasanya dibawakan oleh penari pria atu biasa disebut Gandrung Lanang, para lelaki itu menari menggunakan pakaian tarian wanita pada umumnya.

Akan tetapi kesenian Gandrung saat ini sulit untuk kita dapat jumpai, kesenian ini juga hampir punah. Di Banyumas sendiri tariann Gandrungan juga sulit untuk dapat kita jumpai. Wlaupun sebenarnya tarian ini merupakan salah satu kesenian yang dulunya banyak di gemari olah masyarakat banyumas pada umumnya. Akan tetapi semakin berkembangnya jaman kesenian ini juga dikatagorikan sebagai tarian yang hanya menjual kemolekan dari tubuh para penarinnya. Sehingga tidak banyak generasi muda yang ingin melestarikannya.

Kesenian Gandrung berfungsi sebagai tarian pergaulan sama halnya seperti tarian lainnya. Akan tetapi Gandrungan mempunyai ciri tersendiri dari tata letak gerakanya, dan alat musik untuk mengiringinya.

Ada tiga tahap dalam Tarian Gndrungan :

  1. Tahap pertama adalah Jejer Gandrung pada tahap ini penari menarikannya sendri dengan lagu yang dibawkannya ( lagu podo Nonton ) dan diiringi oleh alt musik tradisionalnya.
  2. Tahap kedua adalah Pacu Gandrung pada saat ini penari harus melayani tamu satu persatu. Disinilah para penari harus sabar dalam menghadapi para tamu. Karen kadang kala ada juga para tamu yang menunjukkan norma yang tidak wajar kepda penari. Dan ini juga merupakan salah satu sebab para pemuda enggan untuk melestarikan tari gandrungan ini.
  3. Tahap ketiga adalah Sublek Sungkem dalam tahap ini penari membawakan tarian yang dibawakan dengan maksud permohonan maaf atas tarian yang telah dibawakannya semalaman itu.

Untuk menghindari kepunahan dalam Kesenian Gandrungan ini banyak para seniman yang melestarikannya dengan mendirikan sekolah kursus untuk tarian Gandrungan dan tarian dari Banyumas yang lainnnya dalam yang sifatnya formal maupun biasa.

Senin, 09 November 2009

anak hilang

Baco adalah seorang kepala keluarga ia tamatan Sekolah Rakyat (SR). Ia sangat menyayangi istrinya yang bernama Sumini. Sumini bekerja di sabuah percetakan koran, namun nasib berkata lain saat hendak menyebrang jalan ia tertabrak bis dan akhirnya meninggal dunia. Dan ia maninggalkan empat orang anak. Saat itulah kehidupan keluargannya menjadi berantakan. Basri adalah anak tertua, ia mempunnyai keinginan yang sangat keras sampai akhirnya ia lari dari rumah dan meninggalkan sekolahnya demi mendapatkan uang. Ia pun rela maenjadi anggota seniman jalanan. Akan tetapi sang ayah menyangka bahwa ia hilang, dan akhirnya Baco sang ayahpun segera melaporkannya kepada pihak berwajib, dan mendatangkan sebuah percetakan koran untuk membuat iklan tentang anaknya yang hilang. Setelah beberapa lama kemudian Basri pun kembali pulang. Dengan diantar oleh salah satu anggota dari seniman jalanan yang menerimanya sebagai anggota.Masalah yang dihadapi Baco tidak hanya itu saja ia juga harus meninggalkan tempat tingalnya itu untuk pindah ketempat yang lebih baik lagi.

Dalam film ini banyak pelajaran yang bisa saya ambil, tentang kehidupan suatu keluarga yang tidak mampu atau miskin yang tinggal dipinggiran laut yang sangat kumuh. Di film ini juga banyak mempelajari tentang arti kehidupan,cinta, kasih sayang, tanggung jawab, penderitaan, serta harapan sebuah keluarga.

- tanggung jawab
Tanggung jawab oleh seorang Bapak (Baco) dalam Film tersebut belum dapat dikatakan sebagai bapak yang bertanggu jawab. Karena ia tidak dapat menafkahkan keluargannya sendiri sampai akhirnya sang istripun juga ikut mencari nafakah untuk keluarga. Ia juga belum bisa menyediakan tempat tinggal yang layak untuk keluarganya.


tanggung jawab si Basri dalam dirinya sendri juga belum dapat dikatakan asebagai tanggung jawab karena ia pergi dari rumah, ia menganggab bahwa lingkungannya tidak layak untuk di tempati.

- manusiadan penderitaan
Dalam kisah tersebut penderitaan yang dialami sebuah keluarga memang sangat menyedihkan ketika seorang ibu yang tertabrak lari. Dan meninggalakan seorang anak yang masih kecil dan membutuhkan kasih sayangnya. Dan kelurga itu juga harus tinggal di pinggiran pantai yang sangat kumuh. Itu merupakn sebuah pendaritaan ynag mereka harus hadapi.

- manusia dan cinta
Saat seorang ayah sangat mencintai anaknya senhingga ia membela-belakan dirinya untuk mencari anaknya dengan melaporkan kepolisi. Dan mendatangi sebuah percetakan koran agar berita tentang anaknya dapat di muat di koran tersebut. Supaya sang anak cepaat kembali pulang.

- harapan

seorang anak ingin kehidupannya lebih baik lagi dengan mencari uang,akan tetapi ditentang oleh sang ibu. Dengan cara pergi dari rumah ia pun bekerja sebagai seniman jalanan. Dan berharap kehidupannya dapat lebih layak lagi.